Pesan rahasia dari karangan bunga, tradisi Bangsa Victoria untuk menyampaikan pesan terselubung

Telah diterbitkan

BBC Culture

bunga, bahasa bunga, arti bunga

Sumber gambar, Getty Images

Anyelir kuning adalah simbol penghinaan, bunga berwarna merah adalah simbol cinta. Melalui bunga, kita bisa bicara tanpa sepatah kata pun.

Bunga sudah lama dikenal sebagai sarana ekspresi emosional. Ketika ingin menyampaikan kasih sayang, kegembiraan, maupun belasungkawa, ketika kata-kata tidak cukup menggambarkannya, kita mengandalkan keindahan bunga.

Seni floriografi adalah sarana komunikasi berkode yang lebih sering disebut sebagai bahasa bunga, yang menjadi cara mengatakan keintiman emosional yang tak tersampaikan.

Menurut Royal Horticultural Society, praktik ini mendominasi budaya Victoria di Inggris dan AS. Meskipun sebagian besar dilupakan selama beberapa dekade, kini praktik itu kembali populer.

Salah satu contoh paling menonjol dari floriografi baru-baru ini adalah pilihan karangan bunga pemakaman Raja Charles untuk ibunya, mendiang Ratu.

Terikat oleh tradisi mendalam untuk menyembunyikan emosi, dia mengungkapkan rasa kehilangannya melalui pilihan bunga; myrtle untuk cinta dan kemakmuran, dipasangkan dengan oak Inggris untuk melambangkan kekuatan.

Bagi yang tidak paham, karangan bunga itu berdiri sendiri sebagai simbol kesedihan keluarga, maknanya berasal dari kehadirannya bukan substansinya.

Hanya dengan menganalisis jenisnya, keluasan emosinya dapat dipahami dengan lebih baik.

bunga, bahasa bunga, arti bunga

Sumber gambar, Alamy

Keterangan gambar, Floriografi, atau bahasa bunga, populer pada abad ke-19, khususnya di Inggris dan Prancis.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Personalisasi yang menyentuh seperti itu adalah bagian dari fondasi budaya yang kita miliki.

Tradisi floriografi selalu ada, meskipun yang bertahan hingga hari ini hanyalah sisa-sisanya. Banyak yang tahu bahwa karangan bunga mawar melambangkan romansa, misalnya, tetapi hanya sedikit yang tahu sebabnya.

Kita mungkin tidak menganggap sebatang bunga tertentu sebagai pesan positif atau negatif, seperti yang dilakukan orang-orang Victoria, tetapi kita tahu bahwa bunga tertentu lebih cocok untuk acara tertentu.

Bagaimanapun, pemahaman tentang makna bunga dapat membantu kita berkembang dari kesederhanaan mengirim karangan bunga hanya berdasarkan keindahannya, dan masuk ke dalam keintiman emosional yang lebih dalam dan bermakna.

"Bunga, sebagai hadiah atau untuk acara-acara khusus, bisa menjadi lebih bermakna saat menggunakan bahasa bunga. Bisa didasarkan pada warna, jenis bunga, atau keduanya," kata Harriet Parry, penjual bunga di Bloom & Wild.

"Floriografi sudah ada selama ribuan tahun, tetapi hari ini kami masih punya pelanggan yang meminta bunga yang berarti sesuatu yang istimewa bagi mereka, baik secara pribadi atau melalui makna simbolisnya."

Bagaimana floriografi memengaruhi keputusan kita membuat toko bunga, seperti Bloom & Wild, melakukan pengamatan yang menarik.

Pertama, mereka mencatat bahwa 29% orang memilih bunga berdasarkan warna buket, dan warna merah menjadi pilihan paling populer.

Warna gairah, merah, secara universal diakui sebagai ekspresi cinta.

Adapun merah muda memiliki segudang arti tergantung lokasi; di Thailand adalah simbol kepercayaan, sedangkan di Jepang diyakini sebagai simbol kesehatan yang baik.

Dalam satu rona saja ada berbagai simbolisme, dan ini baru sebagian kecil dari floriografi. Misalnya sweet pea, bunga musim panas yang hadir dalam berbagai warna, tetapi maknanya tetap sama: sebagai tanda terima kasih.

Di era Victoria, sweet pea adalah hadiah yang harus diberikan ketika kita berterima kasih kepada tuan rumah atas waktu yang indah.

Rasa terima kasih dapat diungkapkan lebih jauh dengan memasangkan bunga sweet pea bersama bunga lain. Jika dipasangkan dengan zinnia, bunga yang menandakan persahabatan abadi, karangan bunga bisa dibedakan antara kenalan biasa dan sahabat.

zinnia

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Dalam floriografi Victoria, sweet pea berarti rasa terima kasih, dan zinnia melambangkan persahabatan abadi.

Namun, seperti segala sesuatu di dunia ini, ada kebaikan dan keburukan.

Beberapa bunga digunakan untuk mewakili perasaan negatif terhadap penerima.

Anyelir kuning itu indah, tetapi punya sejarah panjang sebagai simbol penghinaan. Bunga lain yang juga sebaiknya dihindari adalah buttercup, kelopak kuningnya identik dengan sifat kekanak-kanakan.

Menyatukan tanaman merah dan putih sudah lama dianggap tidak baik, beberapa orang masih meyakini bahwa kombinasi ini meramalkan kematian.

Pentingnya semua kode dan koneksi ini dieksplorasi dalam An Illustrated Guide to the Victorian Language of Flowers oleh pakar floriografi Jessica Roux. Semua jenis simbol telah lama menjadi bagian dari budaya, katanya kepada BBC Culture.

"Secara historis, kita menggunakan simbolisme sejak awal sejarah manusia, dalam simbol dan hieroglif berdasarkan karakteristik dan ide yang kita lihat dan alami setiap hari."

Dalam bukunya yang baru-baru ini diadaptasi menjadi kalender, Roux mengeksplorasi perkembangan bahasa bunga yang panjang dan beragam.

"Makna bunga diambil dari literatur, mitologi, agama, legenda abad pertengahan, dan bahkan bentuk bunga itu sendiri.

Seringkali, toko bunga dapat menemukan simbolisme untuk memaknai koleksi baru mereka, dan kadang-kadang, bunga memiliki arti yang berbeda tergantung pada lokasi dan waktu."

Meskipun penggunaan floriografi modern kita berasal dari tempat yang berbeda, kita tidak terlalu berbeda dengan orang-orang zaman Victoria dalam keinginan untuk hanya membagikan aspek-aspek tertentu dari diri kita.

Sebagian besar dari kita mungkin tidak terjebak oleh etiket represif, tetapi kita masih terikat oleh persepsi orang lain.

"Saya tidak akan mengatakan kita hidup di dunia etiket yang sama saat ini," kata Roux. "Tapi saya pikir kita hanya menampilkan sisi tertentu dari diri kita secara online."

Selama era Victoria ketika "sikap yang teguh dalam menghadapi masalah" adalah kesopanan masyarakat yang diharapkan, bahasa bunga adalah sarana untuk melewati etiket represif.

Roux menjelaskan: "Bahasa bunga Victoria - juga disebut floriografi - muncul sebagai metode komunikasi rahasia pada saat etiket mengesampingkan ekspresi emosi yang terbuka dan mencolok."

Katakan dengan bunga

Charlotte de la Tour's Le Langage des Fleurs, diterbitkan pada 1819, adalah buku pertama yang merinci simbolisme bunga yang sangat besar.

Buku ini memiliki dampak yang sangat besar pada masyarakat Barat abad ke-19 sehingga para sarjana menyebutnya sebagai artefak berharga dalam memahami tradisi pada masa itu.

bunga, bahasa bunga, arti bunga

Sumber gambar, Alamy

Keterangan gambar, Kode floriografi bunga yang tersembunyi berarti bahwa kekasih, teman, atau bahkan musuh dapat bertukar pesan dengan tetap mempertahankan etiket yang ketat saat itu.

Walaupun praktik tersebut disaring melalui kelas-kelas sosial, bahasa bunga terutama populer di kalangan perempuan dari kelas atas – demografis yang masih dianggap lebih rendah daripada laki-laki, meskipun berada dalam posisi istimewa secara finansial.

Di masa ketika perempuan tidak bisa blak-blakan, bunga menjadi cara mereka berkomunikasi dengan teman sebayanya, menawarkan sarana untuk bicara tanpa menurunkan status sosial mereka.

"Perempuan muda kelas atas pada era itu menganut praktik tersebut, mengirimkan karangan bunga sebagai tanda cinta atau peringatan, mengenakan bunga di rambut atau diselipkan ke dalam gaun, dan merayakan semua hal yang bermotif bunga," Roux menjelaskan.

"Banyak dari mereka menciptakan rangkaian bunga kecil, yang disebut tussie-mussies atau nosegays, dengan menggabungkan beberapa bunga mekar dalam buket kecil."

"Dikenakan atau dibawa sebagai aksesori, bunga ini mengandung pesan kasih sayang, keinginan, atau kesedihan. Buket kecil ini memungkinkan orang Victoria menunjukkan perasaan mereka yang sebenarnya, dalam tampilan yang penuh teka-teki dan memikat."

Tussie-mussies juga dianggap membantu menangkal penyakit.

Pada awal abad ke-20, khususnya saat Perang Dunia Pertama dimulai, seni floriografi sebagian besar hilang.

Dalam masyarakat yang terpecah oleh perang, penghematan menjadi bahasa yang diucapkan semua orang, dan obsesi dengan bunga-bunga yang anggun secara estetika pun menghilang.

Meski demikian, kenangan akan budaya bunga yang terjalin begitu dalam ke dalam budaya Victoria, masih bergema.

Floriografi masih merasuki literatur, memastikan tradisi selalu berada di dalam radar.

Salah satu contohnya, floriografi memainkan peran kunci dalam novel Edith Wharton tahun 1920, The Age of Innocence, berlatar Zaman Emas New York. Berfokus pada rencana pernikahan pasangan kelas atas, kisah Wharton mengeksplorasi seluk-beluk adat istiadat masyarakat di New York pada 1870-an, yang penuh gosip cabul.

Wharton mampu menggambarkan kompleksitas masyarakat kelas atas melalui pemahaman tentang tradisi zaman itu. Akibatnya, penggunaan bunga memainkan peran penting dalam narasi, dengan karakter May yang selalu berbunga putih.

Bunga lily-of-the-valley digunakan untuk merujuk pada kepolosan May dalam hal-hal duniawi. Sebaliknya, ada karakter Ellen, sepupu May, yang diasosiasikan dengan warna kuning di sepanjang novel.

Archer, tunangan May, mengirimkan bunga kuning kepada Ellen karena dia yakin itu sesuai dengan kepercayaan diri dan pengalaman duniawinya.

Di mata Archer, Ellen adalah perempuan yang eksotis dan berpengetahuan luas, dengan kecerahan warna kuning yang menangkap keyakinan itu.

Perbandingan yang berkelanjutan antara putih dan kuning mengabadikan perbedaan mencolok antara kedua perempuan itu, sebuah nuansa penting yang akan hilang tanpa bahasa bunga.

Belakangan, pada 1980-an, Margaret Atwood menggambarkan simbolisme bunga dalam karya distopia klasik tahun 1985 miliknya The Handmaid's Tale.

Tulip merah adalah simbol kesuburan para pelayan serta pengurungan mereka, misalnya.

Dan bahkan hingga saat ini, fiksi masih menggunakan floriografi sebagai alat naratif yang penting.

Flowers For The Dead karya Barbara Copperthwaite mungkin merupakan film thriller, tetapi pada intinya adalah bahasa bunga, dengan si pembunuh merayu korbannya melalui berbagai makna bunga.

Meskipun jelas lebih mengerikan daripada The Age of Innocence karya Wharton, kisah dari Copperthwaite menunjukkan bagaimana pesan-pesan berkode ini masih beresonansi dan memiliki daya pikat yang tak tertahankan.

Dengan menyambut kembali tradisi floriografi ke dalam budaya yang lebih luas, kita dapat menjelajahi kedalaman emosi kita dengan cara yang unik.

Bunga menjadi sarana komunikasi postmodern, mampu tumbuh seperti kita, simbolismenya mendalami tradisi, tetapi terbuka untuk perubahan.

"Saya pernah mendengar penggunaan floriografi di Victoria dibandingkan dengan cara kita menggunakan emoji untuk berkomunikasi dalam pesan," kata Roux.

"Pemakaiannya dapat bervariasi, dalam artian tergantung pada siapa yang menggunakannya, konteks penggunaan, dan digabungkan dengan emoji lain (atau, untuk orang Victoria, bunga lain)."

Kita bisa bicara tanpa mengetik sepatah kata pun.

Kirim ikon hati di sini, ikon api ke sana – emoji berbicara melalui estetika mereka, bahasa rahasia mereka sendiri.

Bunga tidak berbeda. Mereka hanyalah emoji abad ke-19, yang masih bertahan setelah sekian lama.

___________________

Anda dapat membaca versi artikel ini dalam Bahasa Inggris dengan judul The secret Victorian language that's back in fashion di BBC Culture.