You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Piala Dunia 2026: Jepang akan hadapi Brasil di babak 32 besar, mungkinkah 'Samurai Biru' menjadi kuda hitam?
- Penulis, Keifer MacDonald
- Peranan, Jurnalis BBC Sport
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 3 menit
Setelah bermain imbang dengan Swedia, Jepang finis di posisi kedua Grup F di belakang Belanda—yang mengalahkan Tunisia dengan skor 3-1.
Jepang akan menghadapi juara Piala Dunia lima kali, Brasil, di babak 32 besar pada Selasa (30/06) pukul 00.00 WIB di Stadion Houston.
Ketika jumlah negara peserta Piala Dunia diperbanyak dari 32 menjadi 48 tim, tampaknya ada lebih banyak calon kuda hitam daripada turnamen-turnamen sebelumnya.
Namun, hanya sedikit negara yang terlihat lebih siap untuk melangkah jauh secara tak terduga dibandingkan Jepang. Perpaduan kualitas individu, performa terkini, dan pengalaman menyeluruh menjadikannya salah satu kuda hitam paling menarik dalam kompetisi ini.
Pada Piala Dunia 2022, tim berjuluk 'Samurai Biru' itu mengalahkan Jerman dan Spanyol untuk menjadi juara Grup E dan melaju ke babak gugur.
Namun, Jepang menelan pil pahit saat tersingkir di babak 16 besar untuk keempat kalinya setelah kalah adu penalti dari Kroasia.
Kini, empat tahun kemudian, saat mereka menahan imbang Belanda dan Swedia serta mengalahkan Tunisia, muncul keyakinan bahwa turnamen kali ini bisa menjadi penampilan tersukses Jepang dalam delapan keikutsertaan Piala Dunia.
Baca juga:
Mantan bek Southampton, Maya Yoshida, percaya skuad berisi 26 pemain yang dipilih oleh pelatih Hajime Moriyasu mampu melangkah lebih jauh di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Yoshida, 37 tahun, yang menjadi kapten Jepang pada 2022, ikut ke turnamen ini sebagai "pemain pendukung" non-pemain. Perannya adalah pemimpin tim di balik layar.
"Bagi saya, mencapai perempat final—tahap yang belum pernah kami capai atau rasakan sebelumnya—adalah tujuan utama," kata Yoshida kepada BBC Sport.
"Apa pun di atas itu akan menjadi bonus."
'Tujuan saya adalah menjadi yang terbaik dari yang terbaik'
Bukan hanya Yoshida yang menetapkan standar tinggi untuk Jepang.
Awal tahun ini, Moriyasu menargetkan membawa Jepang meraih kejayaan Piala Dunia.
"Tujuan saya adalah tim menjadi yang terbaik dari yang terbaik," kata Moriyasu kepada majalah World Soccer sebelum turnamen.
"Kami telah meningkatkan level kami sedikit demi sedikit melalui aktivitas tim nasional.
"Bagi saya, tugas saya adalah mengeluarkan yang terbaik dari para pemain. Pemain kami memang banyak yang cedera, tetapi kami juga telah membuktikan bahwa kami memiliki skuad untuk menampilkan yang terbaik terlepas dari siapa lawannya."
Tidak mengherankan jika pelatih berusia 57 tahun itu begitu percaya diri dengan para pemain yang dimilikinya, termasuk Daichi Kamada dari Crystal Palace dan Ao Tanaka dari Leeds United.
Mereka membantu Jepang menjadi negara non-tuan rumah pertama yang mengamankan tempat di putaran final Piala Dunia 2026 setelah bermain nyaris sempurna pada putaran kualifikasi.
"Sebanyak 19 dari 26 pemain di Qatar menjalani Piala Dunia pertama mereka," tambah Moriyasu.
"Mereka menjadi inti tim kami untuk kualifikasi Asia kali ini—dan mereka telah menetapkan target tinggi sejak awal.
"Mereka telah menjadikan kemenangan Piala Dunia sebagai tujuan mereka selama ini, dan juga mempertahankan mentalitas untuk terus berkembang menuju target tersebut."
Namun, bukan hanya di kualifikasi Asia Jepang tampil mengesankan.
Sejak tersingkir dari Piala Dunia 2022 di Qatar, mereka telah mengalahkan dua tim dengan peringkat tertinggi di Eropa— Inggris dan Jerman—serta Brasil.
Yoshida percaya kemampuan Jepang untuk bersaing dengan beberapa negara berperingkat teratas FIFA didorong oleh semakin banyaknya pemain yang tampil secara rutin di lima liga top Eropa.
"Tentu saja, sekarang lebih banyak pemain bermain di Eropa, terutama di kompetisi Eropa tingkat tinggi," kata Yoshida, yang mencatat 127 kali memperkuat timnas.
"Pada awalnya, saya berada di VVV Venlo, tim papan bawah liga Belanda, yang sangat bagus bagi saya sebagai langkah pertama, tetapi sekarang zaman telah berubah. Reputasi pemain Jepang jauh lebih tinggi.
"Sekarang, setiap hari atau setiap minggu, setiap pemain bermain bersama atau melawan pemain level Piala Dunia.
"Pengalaman itu menjadi perbedaan besar. Itu hal utama bagi saya. Namun jangan lupa bahwa jalan itu dimulai oleh para pemain senior seperti Shunsuke Nakamura, Hidetoshi Nakata, Shinji Ono.
"Mereka membuka pintu dan generasi kami mulai melangkah masuk, dan sekarang pintu itu semakin lebar."