Komet hijau: Jika terlewat, Anda harus menunggu 50.000 tahun lagi untuk melihatnya

Foto komet hijau yang diambil dari kabin dekat Taman Nasional Yosemite di California

Sumber gambar, Dan Bartlett

Keterangan gambar, Mantan guru sains, Dan Bartlett, menangkap gambar komet ini dari kabinnya dekat Yosemite National Park di California, Amerika Serikat.
Telah diterbitkan

Sebuah komet berwarna hijau akan kembali ke Galaksi Bima Sakti dan khalayak akan bisa melihatnya dengan mata telanjang pada Rabu (01/02).

Komet langka ini akan melintas dekat Bumi untuk pertama kalinya dalam 50.000 tahun.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan, komet ini sudah dapat disaksikan di seluruh Indonesia sejak tanggal 1 Februari pukul 18.30 hingga 2 Februari pukul 02.30 waktu setempat

Para petinggi dari Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengatakan benda angkasa ini pertama kali terlihat pada Maret 2022 ketika dia masih berada di dalam orbit Jupiter.

Komet ini bisa dilihat lewat lensa binokuler dan penampakannya tampak seperti cahaya hijau kecil.

“Kami akan mencoba mencari jejak beberapa molekul tertentu yang tidak bisa diakses dari tanah. Jadi, benda-benda yang ada di atmosfer bumi seperti air, karbon dioksida, karbon monoksida, dan metana,“ kata ilmuwan NASA, Dr Stefanie Milam.

Cahaya kehijauan yang dipancarkan mencerminkan komposisi kimia komet itu.

Cahaya ini dihasilkan dari benturan antara sinar matahari dan molekul berbasis karbon yang berada di ‘koma‘ komet, yakni awan gas yang mengitari inti komet.

Komet ini terlihat dekat sekali dengan Bumi pada 1 Februari, ungkap para ilmuwan.

“Komet biasanya tak bisa ditebak, tetapi jika yang ini terus melanjutkan tren pemancaran cahayanya seperti sekarang, (komet ini) akan mudah terlihat,“ tulis NASA pada situsnya awal bulan ini.

“Mungkin saja (komet ini) bisa terlihat dengan mata tanpa alat bantu di langit yang gelap,“

Benda luar angkasa -yang diberi nama C/2022 E3 (ZTF) – paling mendekati matahari pada 12 Januari sebelum semakin mendekati Bumi pada 1 Februari.

Pada titik itu, komet ini akan berjarak hanya sekitar 42 juta kilometer dari Bumi, menurut Planetary Society.

Baca juga:

Gambar menunjukkan komet hijau yang diambil dari kabin dekat Taman Nasional Yosemite di California

Sumber gambar, Dan Bartlett

Keterangan gambar, Komet ini dinamakan C/2022 E3 (ZTF)

‘Bola salju kotor‘

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Meski memiliki nama asli panjang, komet hijau itu diberi julukan ‘bola salju kotor’ oleh para astronom. Sebab, komet berupa bola dari salju, debu, dan bebatuan yang biasanya berasal dari lingkaran materi dingin alias awan Oort yang letaknya di ujung luar sistem tata surya kita.

Komet terdiri dari sebuah inti solid yang terbentuk dari batu, es dan debu. Kemudian inti tersebut diselimuti oleh atmosfer gas yang tipis dan dipenuhi lebih banyak es dan debu. Inilah yang disebut koma.

Semakin mendekati matahari, koma yang menyelimuti inti komet semakin meleleh dan melepaskan aliran gas dan debu yang tertiup dari permukaan oleh radiasi matahari dan plasma.

Aliran gas dan debu ini membentuk ekor komet yang keruh dan menghadap luar.

Komet berkelana menuju bagian dalam tata surya ketika berbagai kekuatan gravitasi mengangkat mereka dari awan Oort. Komet terlihat lebih jelas saat semakin mendekati panas matahari.

Kurang dari selusin komet ditemukan setiap tahun oleh sejumlah observatorium di seluruh dunia.

Baca juga:

Dari mana komet hijau ini mendapatkan namanya?

Zwicky Transient Facility (ZTF) di California adalah lembaga yang menemukan komet C/2022 E3 (ZTF). Itulah mengapa namanya memiliki singkatan 'ZTF' di bagian akhir.

Mungkin Anda pernah melihat komet-komet lain dengan akhiran yang sama. Itu berarti komet-komet tersebut juga ditemukan oleh lembaga ZTF.

Komet hijau ini memerlukan waktu sekitar 50.000 untuk mengitari matahari, sehingga ”kesempatan untuk melihatnya hanya akan datang sekali seumur hidup” kata Planetary Society.

Bagaimana cara melihatnya di Indonesia?

Peneliti Pusat Riset (PR) Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andi Pangerang, mengungkapkan, komet ini diperkirakan akan melintas dekat Bumi pada 2 Februari pukul 00.32 WIB / 01.32 WITA / 02.32 WIT pada jarak 42.472.000 km dari Bumi.

Saat melintas dekat Bumi, komet ini sudah dapat disaksikan di seluruh Indonesia sejak tanggal 1 Februari pukul 18.30 hingga 2 Februari pukul 02.30 waktu setempat (sesuai zona waktu masing-masing) dari arah Utara dekat konstelasi Camelopardalis.

Untuk DKI Jakarta dan sekitarnya, komet ini mencapai titik tertingginya pukul 21.53 WIB dengan ketinggian 11,9 derajat. Saat mencapai titik terdekat, komet ini terlihat di arah Utara dengan ketinggian 7,4 derajat untuk DKI Jakarta dan sekitarnya. Untuk wilayah Indonesia Timur, komet akan terbenam saat mencapai titik terdekat dengan Bumi.

Komet ini memungkinkan dapat diamati menggunakan mata kepala untuk wilayah berpolusi cahaya sangat rendah (daerah pedalaman) hingga ringan (daerah pedesaan). Sementara, untuk wilayah berpolusi cahaya sedang (daerah pinggir kota / suburban) hingga tinggi (daerah perkotaan/urban) cukup sulit mengamati komet ini.

Komet ini dapat diamati tanpa menggunakan alat bantu optik untuk daerah pedalaman dan pedesaan hingga 13 Februari, sejak pukul 18.30 hingga 01.00 waktu setempat dari arah Utara hingga Barat dekat konstelasi Taurus.

Komet berkulminasi di arah Utara pada pukul 19.00 waktu setempat dengan ketinggian 64,2 derajat untuk DKI Jakarta dan sekitarnya.

Baca juga:

Untuk dapat mengamati komet ini, khalayak cukup mencari tempat yang bebas dari polusi cahaya, medan pandang bebas dari penghalang saat mengamati komet, dan tentunya kondisi cuaca cerah.

Khalayak juga dapat mengabadikan komet ini menggunakan kamera DSLR, kamera CCD yang terpasang dengan teleskop, dan terhubung dengan laptop/komputer.

Untuk orang-orang yang berada di bumi belahan utara tetapi tidak memiliki teleskop, komet itu akan terlihat seperti ”noda pudar kehijauan di langit”.

Sementara, mereka yang memiliki teleskop dapat melihat ekor dramatis komet ini dengan jelas, menurut Planetary Society.

Cahaya hijau terang akan terlihat oleh pengamat di belahan Bumi utara pada langit pagi saat komet bergerak ke arah barat laut selama bulan Januari. Mereka yang berada di belahan bumi selatan dapat melihatnya pada bulan Februari, kata NASA.

Ilustrasi komet

Sumber gambar, SOLARSEVEN/GETTY

Keterangan gambar, Ilustrasi ini menunjukan ekor panjang dari komet yang terbentuk dari es meleleh dan gas terpancar

NASA berencana mengamati komet tersebut menggunakan Teleskop James Webb Space khusus Luar Angkasa (JWST), yang mungkin bisa memberikan petunjuk tentang pembentukan tata surya.

Baca juga: