Lima jurnalis hilang di sekitar Gunung Anak Krakatau, Tim SAR umumkan temukan pelampung di hari ketiga pencarian

Pelampung.

Sumber gambar, Dinas Penerangan Angkatan Laut

Keterangan gambar, TNI menemukan pelampung di tengah pencarian lima jurnalis yang hilang.
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 6 menit

Tim SAR gabungan mengumumkan telah menemukan sebuah pelampung di sebelah barat perairan Cikoneng-Labuan, pada Kamis (10/09), di hari ketiga pencarian lima jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.

Meski begitu, hingga saat ini, belum dapat dipastikan apakah pelampung yang ditemukan tersebut merupakan milik salah satu jurnalis atau awak kapal.

"TNI AL dan tim gabungan masih melakukan pemeriksaan serta pencarian lebih lanjut untuk memastikan keterkaitan temuan tersebut dengan para jurnalis yang tengah dicari," bunyi keterangan tertulis dari Dinas Penerangan Angkatan Laut.

TNI AL bersama tim gabungan menyatakan akan terus menyisir perairan-perairan yang diduga menjadi lokasi hilang kontaknya para jurnalis.

Selain pelampung, tim SAR juga disebut menemukan satu botol tabung berwarna putih di lokasi yang sama.

Danlanal Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani Wawan mengatakan kedua benda tersebut belum bisa langsung dinyatakan sebagai barang milik korban karena benda serupa masih umum digunakan oleh nelayan.

"Jadi kita tidak bisa langsung mendeklarasikan bahwa itu barang-barang yang berkaitan dengan korban," katanya.

Seluruh benda yang ditemukan tim di lapangan akan terlebih dahulu dibawa dan dikumpulkan di posko untuk diidentifikasi.

Tim SAR juga akan mencocokkan pelampung tersebut dengan perlengkapan yang digunakan speedboat Arupadhatu 1 yang membawa rombongan pada Senin (07/09).

Sebanyak lima jurnalis dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau menggunakan sebuah kapal sejak Senin sore.

Hingga Kamis, kelima jurnalis bersama awak kapal masih belum ditemukan.

Lima jurnalis sebelum berangkat menuju Gunung Anak Krakatau pada Senin (07/09).

Sumber gambar, Dok.Keluarga

Keterangan gambar, Lima jurnalis sebelum berangkat menuju Gunung Anak Krakatau pada Senin (07/09).
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Di hari ketiga, tim SAR juga mengerahkan helikopter untuk mendukung operasi pencarian.

Area pencarian mencakup perairan sekitar Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, kawasan Krakatau, hingga Pulau Rakata dan Pulau Panjang.

Para petugas menyisir perairan Pulau Sebesi hingga kawasan Krakatau menggunakan rigid inflatable boat, yaitu kapal cepat dengan lambung bawah yang keras dari fiberglass atau aluminium.

Kasubbag Umum Basarnas Lampung, Zulkarnain Siagian, mengatakan pencarian menjadi lebih sulit karena tidak ada sinyal marabahaya yang muncul dari kapal saat komunikasi dengan rombongan terputus.

"Pada saat terjadinya musibah itu tidak ada distress, istilahnya sinyal marabahaya. Itu yang membuat kami belum bisa mendeteksi di mana posisinya," ujar Zulkarnain.

Menurut dia, posisi terakhir kapal juga belum dapat dilacak melalui telepon seluler.

Karena itu, tim mengandalkan penyisiran langsung berdasarkan area yang telah ditentukan dalam operasi SAR.

"Untuk sinyal dari ponsel juga sama sekali belum ada untuk itu. Jadi, kami belum bisa mendeteksi posisi," katanya.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, mengatakan pencarian dilakukan secara maksimal dengan memperluas area penyisiran dan mengoptimalkan seluruh unsur serta sarana yang tersedia.

"Sampai saat ini hasil pencarian masih nihil. Kami tidak berhenti melakukan upaya pencarian. Setiap perkembangan di lapangan akan terus kami evaluasi untuk menentukan strategi berikutnya," kata Al Amrad.

Dalam proses pencarian tersebut, Gunung Anak Krakatau terpantau mengeluarkan material debu vulkanik cukup tebal.

Terkait kondisi tersebut, Al Amrad menegaskan bahwa keselamatan personel tetap menjadi prioritas selama operasi berlangsung.

"Saat terlihat adanya material debu vulkanik yang cukup tebal, kami tetap mempertimbangkan faktor keselamatan bagi seluruh personel. Pencarian akan terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan," jelasnya.

Tim SAR melakuka pencarian di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Rabu (09/09).

Sumber gambar, Basarnas

Keterangan gambar, Tim SAR menyisir perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Rabu (09/09).
data penumpang kapal yang hilang kontak di Posko SAR Nasional, Pandeglang, Banten, Selasa (08/09).

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Personel Tim SAR menuliskan data penumpang kapal yang hilang kontak di Posko SAR Nasional, Pandeglang, Banten, Selasa (08/09).

Sebelumnya, Al Amrad mengatakan, kelima jurnalis tersebut menumpang kapal cepat Arupadhatu 1 dari Dermaga Pagedongan, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin (07/09) pukul 14.00 WIB.

Kapal tersebut berisi Warta (55) selaku kapten kapal, Surakman (60) selaku anak buah kapal, dan Heriyanto (49) sebagai pemandu.

Adapun kelima jurnalis mencakup M Bagus Khoirunnas, jurnalis kantor berita Antara Biro Banten; Ari Basuki, jurnalis Merdeka.com; Yudhis, jurnalis iNews; Daus, jurnalis kantor berita Anadolu; dan Donal Husni, jurnalis lepas.

Sebelum berangkat, Bagus sempat mengirimkan foto di dalam kapal bersama empat rekannya kepada istrinya.

Estimasi perjalanan dari dermaga ke Gunung Anak Krakatau selama dua jam.

Pada pukul 14.42 WIB, Bagus sempat berkomunikasi dengan jurnalis Antara Biro Lampung, Abay, yang sedang berada di Pulau Sebesi. Saat itu, Bagus mengirimkan informasi dengan mengabarkan lokasi terkini. Namun, pada pukul 15.04 WIB, Abay hilang kontak dengan Bagus.

Peta lima jurnalis hilang kontak

Pada pukul 18.13 WIB, pemandu kapal Heriyanto sempat mengirimkan foto sedang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Setelah itu, tiada kabar dari kru kapal dan kelima jurnalis.

Pada Selasa (08/09) siang, pimpinan kantor berita Antara Biro Banten, Bayu Kuncahyo, melaporkan pewartanya hilang kontak kepada Basarnas.

Pencarian dimulai

Setelah mendapatkan laporan tersebut, tim SAR dari Pandeglang berangkat menuju lokasi terakhir kontak rombongan.

"Tim kemudian melakukan penyisiran menuju arah Krakatau dan sejumlah wilayah perairan yang diduga menjadi lokasi keberadaan speed boat," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, kepada Kompas.com.

Baca juga:

Polda Banten menyampaikan Basarnas menggerakkan sejumlah kapal dan personel untuk mencari lima jurnalis yang hilang.

"Dalam pencarian tersebut, sebanyak 23 personel terlibat, terdiri dari dua personel KP Sanjaya Mabes Polri, lima personel Ditpolairud Polda Banten, dan 16 personel Basarnas Banten.

"Pencarian juga didukung dengan penggunaan Kapal Basarnas KN Tetuka yang bergerak dari Dermaga Pelabuhan BBJ Bojonegara menuju wilayah perairan Carita dan selanjutnya ke lokasi pencarian," kata Kabid Humas Polda Banten, Kombes Maruli Hutapea, pada Selasa (08/09).

"Kapal masih melakukan pencarian terus di laut selama tiga hari ini," tambahnya sebagaimana dikutip Detik.com.

peta posisi terakhir kapal yang hilang kontak di Posko SAR Nasional, Pandeglang, Banten, Selasa (08/09).

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Personel Tim SAR menunjukkan peta posisi terakhir kapal yang hilang kontak di Posko SAR Nasional, Pandeglang, Banten, Selasa (08/09).

Hingga penyisiran berakhir pada Selasa (08/09) pukul 22.12 WIB, tim belum menemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang masih dalam pencarian.

Menurut Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, tim SAR Gabungan akan memperluas area penyisiran, pada Rabu (09/09).

Kantor SAR Banten menyiapkan dua pesawat nirawak termal atau drone termal untuk mencari delapan orang yang hilang kontak.

Koordinator Operasi SAR, Rizky Dwianto, mengatakan pencarian melalui udara menggunakan helikopter atau pesawat belum memungkinkan karena abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih menyebar.

Artikel ini akan diperbarui secara berkala.